Bukan kah ini pembalasan kamu bilang
Bercerita lah,
Kamu tahu aku suka dengar ceritamu.
Tak jadi soal tentang apa, aku akan takzim
mendengarnya.
Percaya lah aku akan setia mendengarnya, lagi
dan lagi.
Kamu tahu, sejak kita bersama aku selalu
merasa kamu yang terbaik dan bukan berarti tak ada yang lebih baik.
Dan kamu pun juga tahu, aku bukan sosok terbaik
masih ada yang jauh lebih baik untukmu.
Bukankah saat itu kita saling melengkapi,
mendukung dan menyemangati.
Tak ada namanya kurang, yang ada hanya belum.
Kita belum mendapat ini dan itu, kita belum berhasil karena itu kita masih harus begini dan begitu.
Selalu ada perasaan bersama dan memiliki,
Matamu hanya tertuju untukku, dan aku begitu
bangganya dengan itu.
Kemudian aku mulai bercerita ke orang lain,
teman, keluarga, siapa pun itu.
Betapa dan luar biasa dan beruntungnya aku
bersamamu.
Tiba – tiba, kita merasa sudah berbeda.
Aku berubah, tapi saat itu kamu masih tetap
sama.
Kamu bilang akan setia, selalu bersama.
Aku ragu kemudian menjauh dan pergi.
Lalu ada jeda diantara kita, selang beberapa
waktu kita kembali.
Aku kira saat itu kita bisa bersama lagi dan kita
memang bersama, saling percaya.
Dan saat itu pun tiba, kamu mulai berubah.
Aku berusaha menjaga, menepati janji yang
dulu sempat kamu minta namun kamu sudah tak peduli janji itu apa.
Yang kamu pedulikan hanyalah pergi sesegera
mungkin.
Dan kamu berhasil pergi dan jauh, bukan hanya
jarak namun juga perasaan.
Aku masih tidak percaya, mungkin ini juga
yang dulu pernah kamu rasa.
Hingga kamu jujur, ini pembalasan katamu.
Terkejut, luar biasa rasanya.
Tak percaya, bertanya-tanya kenapa ini, ada
apa dengan ini.
Namun tak peduli, kamu tak peduli sama
sekali.
Kini setelah beberapa waktu, masih ada sisa
kosong dengan ingatan itu.
Aku masih mencari tahu kenapa…