07 December 2016

Bukan kah ini pembalasan kamu bilang

  No comments
Bercerita lah,

Kamu tahu aku suka dengar ceritamu.
Tak jadi soal tentang apa, aku akan takzim mendengarnya.
Percaya lah aku akan setia mendengarnya, lagi dan lagi. 

Kamu tahu, sejak kita bersama aku selalu merasa kamu yang terbaik dan bukan berarti tak ada yang lebih baik.
Dan kamu pun juga tahu, aku bukan sosok terbaik masih ada yang jauh lebih baik untukmu.

Bukankah saat itu kita saling melengkapi, mendukung dan menyemangati.
Tak ada namanya kurang, yang ada hanya belum.
Kita belum mendapat ini dan itu, kita belum berhasil karena itu kita masih harus begini dan begitu.
Selalu ada perasaan bersama dan memiliki,
Matamu hanya tertuju untukku, dan aku begitu bangganya dengan itu.

Kemudian aku mulai bercerita ke orang lain, teman, keluarga, siapa pun itu.
Betapa dan luar biasa dan beruntungnya aku bersamamu.

Tiba – tiba, kita merasa sudah berbeda.
Aku berubah, tapi saat itu kamu masih tetap sama.
Kamu bilang akan setia, selalu bersama.
Aku ragu kemudian menjauh dan pergi.

Lalu ada jeda diantara kita, selang beberapa waktu kita kembali.
Aku kira saat itu kita bisa bersama lagi dan kita memang bersama, saling percaya.

Dan saat itu pun tiba, kamu mulai berubah.
Aku berusaha menjaga, menepati janji yang dulu sempat kamu minta namun kamu sudah tak peduli janji itu apa.
Yang kamu pedulikan hanyalah pergi sesegera mungkin.
Dan kamu berhasil pergi dan jauh, bukan hanya jarak namun juga perasaan.

Aku masih tidak percaya, mungkin ini juga yang dulu pernah kamu rasa.
Hingga kamu jujur, ini pembalasan katamu.

Terkejut, luar biasa rasanya.
Tak percaya, bertanya-tanya kenapa ini, ada apa dengan ini.
Namun tak peduli, kamu tak peduli sama sekali.
Kini setelah beberapa waktu, masih ada sisa kosong dengan ingatan itu.

Aku masih mencari tahu kenapa… 

No comments :

Post a Comment